Chapter Tiga : Ketukan di Pintu Kenangan
Alamat itu ada di sana. Jelas. Nyata. Bukan sekadar bayangan di kepalanya. Bukan sekadar harapan samar yang selama ini tak pernah bisa Esta genggam. Esta menatap layar ponsel, matanya terpaku pada deretan huruf yang membentuk sebuah nama. Nama yang seharusnya memiliki makna bagi dirinya, tetapi selama ini hanya terdengar seperti sesuatu yang jauh dan tak terjangkau. Ada sesuatu yang mencengkeram dadanya, sesuatu yang membuat napasnya terasa lebih berat dari biasanya. Radit masih berdiri di ambang pintu, tidak langsung pergi. Menunggu, seperti memberi Esta ruang untuk mencerna semua. Wajahnya tetap datar, tetapi ada sorot yang sulit dijelaskan di matanya. "Gue tahu lo pasti punya banyak pertimbangan," ucap Radit, suaranya terdengar lebih tenang dari biasanya. "Tapi kalau lo mau nemuin dia, gue bakal bantu." Esta tidak langsung merespons. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada kata yang keluar. Radit selalu menjadi orang yang terlihat santai, seolah du...