Postingan

Chapter Tiga : Ketukan di Pintu Kenangan

Gambar
Alamat itu ada di sana. Jelas. Nyata. Bukan sekadar bayangan di kepalanya. Bukan sekadar harapan samar yang selama ini tak pernah bisa Esta genggam. Esta menatap layar ponsel, matanya terpaku pada deretan huruf yang membentuk sebuah nama. Nama yang seharusnya memiliki makna bagi dirinya, tetapi selama ini hanya terdengar seperti sesuatu yang jauh dan tak terjangkau. Ada sesuatu yang mencengkeram dadanya, sesuatu yang membuat napasnya terasa lebih berat dari biasanya. Radit masih berdiri di ambang pintu, tidak langsung pergi. Menunggu, seperti memberi Esta ruang untuk mencerna semua. Wajahnya tetap datar, tetapi ada sorot yang sulit dijelaskan di matanya. "Gue tahu lo pasti punya banyak pertimbangan," ucap Radit, suaranya terdengar lebih tenang dari biasanya. "Tapi kalau lo mau nemuin dia, gue bakal bantu." Esta tidak langsung merespons. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada kata yang keluar. Radit selalu menjadi orang yang terlihat santai, seolah du...

Chapter Dua : Nama yang Tak Disebut

Gambar
Pagi di rumah itu tetap sama. S unyi dalam ketegangan yang tak kasatmata. Suara detik jam di dinding mengisi kekosongan yang seolah tak berujung, dan setiap hembusan napas terasa begitu berat, seperti ada sesuatu yang mengganjal di udara. Tidak ada yang lebih menonjol selain rasa canggung yang selalu hadir setiap kali mereka semua duduk bersama di meja makan, sebuah kebersamaan yang seolah kehilangan makna sejak beberapa hal terjadi di dalam rumah ini. Esta turun ke meja makan sedikit lebih awal dari biasanya, karena Esta tahu, semakin lama menunda, semakin tebal ketegangan yang akan menyelimuti mereka. Di dapur, ibu sudah sibuk menyiapkan sarapan, seperti rutinitas harian mereka yang tak pernah berubah. Radit dan Jati belum terlihat. Seperti biasa, mereka tidak terburu-buru. Yang ada hanya ayah tirinya, lelaki yang kini menjadi bagian dari hidup mereka, duduk di meja. Suasana hening yang mengisi ruangan menciptakan rasa hampa yang semakin menambah suasana hati Esta. Esta memandang...

Chapter Satu : Di Antara Mereka

Gambar
• Abaikan time stamp ___ Pagi masih terlalu sunyi saat Esta membuka matanya. Sinar matahari menelusup masuk melalui celah tirai jendela, menyisakan garis-garis cahaya di lantai kamar yang masih terasa dingin. Kamar ini tidak besar, hanya cukup untuk tempat tidur kecil, meja belajar sederhana, dan lemari pakaian yang catnya mulai mengelupas. Tapi di antara segala kekurangan itu, kamar ini adalah satu-satunya tempat di rumah ini yang benar-benar terasa miliknya. Esta melirik jam dinding di sisi tempat tidur—06.15. Esta terdiam, membiarkan kesadarannya perlahan menyatu dengan tubuhnya yang masih terasa berat. Suara dari lantai bawah mulai terdengar samar-samar. Gemerisik piring, suara kursi yang bergeser, dan langkah-langkah kaki yang familiar. Sarapan sudah dimulai. Tapi Esta ragu. Duduk di tepi kasur, tangannya meremas sudut selimut yang masih membungkus sebagian kakinya. Esta tahu, jika turun sekarang, meja makan itu akan terasa lebih seperti ruang interogasi dibandingkan tempat ...

Prolog

Gambar
 Hujan turun perlahan di luar jendela, mengetuk-ngetuk kaca dengan ritme yang tak terbaca. Udara malam membawa dingin yang merayap masuk melalui celah-celah kecil di dinding kamar. Di dalam ruangan berukuran sempit itu, Esta duduk di ujung kasurnya, punggungnya bersandar pada tembok yang sama dinginnya dengan udara di luar.  Hujan selalu membuatnya berpikir lebih banyak dari yang seharusnya. Tentang ibunya. Tentang keluarga yang kini bukan lagi hanya miliknya. Tentang dua anak lelaki yang tiba-tiba disebut sebagai saudara.    Mereka mengatakan ini rumahnya juga. Tapi sejak pertama kali Esta melangkah masuk, Esta tahu dirinya hanyalah tamu di dalamnya.    Di atas meja kecil di sudut kamar, jam dinding berdetak pelan, mengisi kesunyian yang semakin pekat. Jarum pendek mengarah ke angka delapan, sementara jarum panjang sudah melewati angka lima. Ini sudah waktunya makan malam.    Suara langkah kaki terdengar dari luar kamar. Berat dan ...