Prolog
Hujan turun perlahan di luar jendela, mengetuk-ngetuk kaca dengan ritme yang tak terbaca. Udara malam membawa dingin yang merayap masuk melalui celah-celah kecil di dinding kamar. Di dalam ruangan berukuran sempit itu, Esta duduk di ujung kasurnya, punggungnya bersandar pada tembok yang sama dinginnya dengan udara di luar.
Hujan selalu membuatnya berpikir lebih banyak dari yang seharusnya. Tentang ibunya. Tentang keluarga yang kini bukan lagi hanya miliknya. Tentang dua anak lelaki yang tiba-tiba disebut sebagai saudara.
Mereka mengatakan ini rumahnya juga. Tapi sejak pertama kali Esta melangkah masuk, Esta tahu dirinya hanyalah tamu di dalamnya.
Di atas meja kecil di sudut kamar, jam dinding berdetak pelan, mengisi kesunyian yang semakin pekat. Jarum pendek mengarah ke angka delapan, sementara jarum panjang sudah melewati angka lima. Ini sudah waktunya makan malam.
Suara langkah kaki terdengar dari luar kamar. Berat dan tegas. Lalu dua ketukan di pintu. Esta sudah tahu siapa itu bahkan sebelum suara pria itu terdengar.
"Esta," panggil suara dari balik pintu.
Datar. Biasa saja. Tidak keras, tidak lembut. Sekadar mengumumkan keberadaannya. Suara yang meskipun sudah beberapa bulan ini Esta dengar setiap hari, tetap terasa asing di telinganya. Suara laki-laki yang kini disebut ayah tirinya.
Esta tidak menjawab.
Pintu tidak dibuka, tapi suara itu tetap melanjutkan, tenang tapi tak menyisakan pilihan.
"Makan malam sudah siap."
Lalu langkah kaki itu menjauh.
Esta menarik napas dalam. Tangannya meremas selimut yang ada di pangkuannya. Dulu, saat masih hanya ada dia dan ibunya, makan malam adalah waktu yang paling Esta tunggu. Sepiring nasi, obrolan ringan, tawa kecil di antara mereka. Ibunya akan bercerita tentang pekerjaannya di toko, tentang pelanggan yang cerewet atau ibu-ibu yang suka menawar harga sampai setengahnya. Lalu Esta akan tertawa dan menceritakan harinya di sekolah, tentang teman-temannya, tentang guru-guru yang kadang menyebalkan. Itu adalah momen sederhana, tapi selalu hangat.
Tapi kini, meja makan terasa seperti medan perang.
Esta harus duduk di antara mereka, satu anak laki-laki yang lebih tua darinya dan satu anak laki-laki yang lebih muda darinya menatapnya seolah Esta seorang penyusup. Mereka jarang berbicara langsung kepadanya. Hanya ada gumaman singkat, sesekali, atau tatapan yang tak bisa dijelaskan. Tidak ada kehangatan. Tidak ada ruang bagi Esta untuk menjadi dirinya sendiri.
Ibunya mencoba, tentu saja. Kadang Esta menanyakan sesuatu tentang hari Esta, seperti dulu. Tapi setiap kali ibunya berbicara dengannya, ayah tirinya akan melirik, kakak dan adik tirinya akan meletakkan sendok mereka sedikit lebih keras dari seharusnya. Seolah kehadiran Esta adalah gangguan. Seolah Esta adalah beban yang harus diterima, bukan seseorang yang mereka terima dengan senang hati.
Dulu, Esta berusaha. Esta berusaha ikut dalam percakapan, berusaha memahami candaan yang dilemparkan di meja makan, berusaha menemukan celah agar bisa merasa memiliki tempat di sini. Tapi semakin berusaha, semakin Esta merasa bahwa Esta tidak benar-benar diinginkan. Jadi, perlahan, Esta berhenti mencoba.
Esta mulai makan lebih cepat, atau menunggu sampai semua orang selesai sebelum mengambil piringnya sendiri. Sampai akhirnya, seperti malam ini, lelaki itu memilih untuk tidak turun sama sekali.
Esta mendongak, menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Cahaya lampu kamar membentuk bayangan samar di permukaan kaca, seolah ada seseorang lain di sisi lain jendela yang menatap balik ke arahnya.
"Apa gue benar-benar bagian dari tempat ini?" gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
Hujan di luar semakin deras. Esta bisa mendengar suara air menetes dari atap ke tanah, suara yang selalu menenangkannya sejak kecil. Tapi malam ini, suara itu justru terasa menekan.
Di luar kamarnya, suara kehidupan keluarga itu tetap berjalan seperti biasa. Terdengar bunyi sendok dan garpu beradu dengan piring, suara gelas diletakkan di atas meja, dan percakapan yang terdengar samar. Mereka makan, bercanda, berbicara satu sama lain tanpa kehadirannya.
Esta tidak yakin apakah ada yang benar-benar peduli jika Esta tidak ikut makan malam lagi malam ini.
Esta membaringkan tubuhnya, memeluk bantal dan menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya.
Esta tidak lapar.
Atau mungkin, Esta sudah terlalu kenyang dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Hujan masih turun di luar, mengetuk-ngetuk kaca jendela, seperti ingin memastikan keberadaannya. Esta memejamkan mata. Mungkin malam ini Esta akan tertidur lebih awal. Atau mungkin, seperti malam-malam sebelumnya, hanya akan berbaring dalam gelap, mendengarkan hujan, dan bertanya-tanya berapa lama lagi bisa bertahan di rumah yang tak benar-benar menjadi rumah.
Komentar
Posting Komentar