Chapter Satu : Di Antara Mereka

• Abaikan time stamp
___

Pagi masih terlalu sunyi saat Esta membuka matanya. Sinar matahari menelusup masuk melalui celah tirai jendela, menyisakan garis-garis cahaya di lantai kamar yang masih terasa dingin. Kamar ini tidak besar, hanya cukup untuk tempat tidur kecil, meja belajar sederhana, dan lemari pakaian yang catnya mulai mengelupas. Tapi di antara segala kekurangan itu, kamar ini adalah satu-satunya tempat di rumah ini yang benar-benar terasa miliknya.

Esta melirik jam dinding di sisi tempat tidur—06.15. Esta terdiam, membiarkan kesadarannya perlahan menyatu dengan tubuhnya yang masih terasa berat. Suara dari lantai bawah mulai terdengar samar-samar. Gemerisik piring, suara kursi yang bergeser, dan langkah-langkah kaki yang familiar.

Sarapan sudah dimulai.

Tapi Esta ragu. Duduk di tepi kasur, tangannya meremas sudut selimut yang masih membungkus sebagian kakinya. Esta tahu, jika turun sekarang, meja makan itu akan terasa lebih seperti ruang interogasi dibandingkan tempat berkumpul keluarga.

Dulu, hanya ada dia dan ibu. Dunia mereka sempit, tapi cukup hangat. Mereka tidak punya banyak hal, tapi tidak pernah merasa kekurangan. Makan malam mereka selalu diisi dengan obrolan ringan, cerita-cerita kecil yang membuat waktu berlalu tanpa terasa. Tapi sejak ibu menikah lagi, segalanya berubah.

Esta menghela napas pelan. Esta bisa saja tetap di sini, menunggu sampai mereka semua selesai makan, lalu turun ketika meja sudah kosong. Tapi ibu akan menyadari itu, dan Esta tidak ingin membuatnya khawatir.

Dengan berat hati, Esta akhirnya bangkit.

Dari atas tangga, Esta bisa melihat mereka semua sudah duduk di meja makan. Ibu di ujung meja, dengan secangkir teh di tangan. Jati, saudara tirinya yang berusia 23 tahun, duduk di samping ayah mereka, dengan ekspresi malas seperti biasa. Di seberangnya, Radit, yang lebih muda satu tahun dari Esta, sibuk dengan ponselnya, seolah tidak peduli dengan apa pun yang terjadi di meja makan.

Dan tentu saja, ada ayah tiri Esta.

Sosok yang kini harus Esta panggil ayah, duduk dengan tenang sambil membaca koran. Tidak ada ketegangan yang terlihat di wajahnya, seakan semua baik-baik saja. Tapi Esta tahu lebih baik.

Saat Esta melangkah ke dalam ruangan, ibunya menoleh dan tersenyum kecil.

"Kamu bangun kesiangan?"

Esta menggeleng. "Nggak, cuma malas bangun."

Jati tertawa kecil, nada suaranya lebih seperti mengejek. "Kalau malas bangun, jangan makan sekalian."

Ibu langsung melirik Jati dengan tatapan tajam, tapi tidak mengatakan apa-apa.

Esta duduk tanpa menjawab. Radit tetap dengan ponselnya, seolah semua ini bukan urusannya. Sementara ayah tiri Esta hanya melipat korannya, menatapnya sebentar, lalu kembali ke bacaannya.

Makan pagi berlangsung dalam keheningan yang berat. Ini selalu terjadi setiap kali mereka berkumpul. Obrolan yang ada hanya sekadar basa-basi, atau sindiran-sindiran halus yang membuat Esta semakin merasa bukan bagian dari mereka.

Ketika ibu bangkit untuk membereskan piring, Esta ikut berdiri.

"Aku kerja siang ini," katanya, lebih kepada ibunya.

Ayah tirinya melipat koran. "Part-time itu?"

Esta mengangguk.

"Jangan pulang terlalu malam," katanya sebelum kembali membaca.

Hanya itu. Tidak ada pertanyaan lebih lanjut, tidak ada perhatian lebih jauh.

Di sisi lain meja, Jati menatap Esta dengan sinis.

"Ngapain sih repot-repot kerja part-time segala?" kata Jati. "Kan tinggal minta uang ke Ibu."

Esta mengepalkan tangan di bawah meja, berusaha menahan kata-kata yang ingin Esta lontarkan. Tapi Esta tahu percuma.

Radit masih diam, seolah semua ini bukan urusannya.

Esta akhirnya memilih pergi tanpa menjawab, sebelum mengambil tasnya, lalu melangkah keluar rumah, dan menarik napas dalam-dalam saat udara pagi menyambutnya.

Di luar sana, dunia terasa lebih luas. Di luar sana, Esta bisa sedikit melupakan bahwa di dalam rumah itu, Esta hanyalah tamu.

✍✍✍

Udara pagi masih sejuk ketika Esta keluar dari rumah. Langit sedikit mendung, pertanda hujan mungkin akan turun di siang atau sore nanti. Tapi bagi Esta, itu bukan masalah. Langkahnya cepat meninggalkan rumah, seolah semakin jauh melangkah, semakin ringan beban yang Esta rasakan di dadanya.

Esta berjalan ke arah halte, tempat biasa menunggu bus yang akan membawanya ke tempat kerja. Tidak banyak yang Esta bawa, hanya tas selempang berisi dompet, ponsel, dan sebotol air. Sejak bekerja part-time di sebuah kafe kecil di pusat kota, Esta terbiasa bepergian dengan barang seminimal mungkin.

Saat sedang menunggu bus, ponselnya bergetar di saku celana. Pesan dari ibu.


Esta menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya mengetik balasan.


Sesederhana itu. Tidak ada tambahan kata-kata lain. Tidak ada penjelasan tentang apa yang Esta rasakan saat ini, atau tentang bagaimana setiap kali berada di rumah, Esta merasa seperti orang asing.

Bus datang tak lama setelah itu, dan Esta masuk tanpa ragu. Esta memilih duduk di dekat jendela, membiarkan pikirannya melayang ke mana-mana sepanjang perjalanan. Tempat yang Esta rasa bisa memberinya sedikit ruang untuk bernapas tanpa perlu menjadi siapa-siapa.

✍✍✍

Kafe tempat Esta bekerja tidak besar, tapi cukup nyaman. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota, tersembunyi di sudut jalan yang tidak terlalu ramai. Bangunan dengan dinding bata merah dan jendela kaca besar itu memiliki suasana hangat yang selalu membuat Esta sedikit lebih tenang.

Begitu masuk, aroma kopi langsung menyambutnya, bercampur dengan wangi kue yang baru saja dipanggang. Hanya ada satu pelanggan yang duduk di sudut, sibuk dengan laptopnya.

"Pagi, Esta," sapa Galih, rekan kerjanya yang sudah lebih dulu datang.

"Pagi." Esta mengganti tasnya dengan celemek kerja dan berjalan ke balik meja kasir.

Bekerja di sini bukan pekerjaan besar. Gajinya tidak seberapa, tapi cukup untuk membuat Esta merasa memiliki sesuatu yang menjadi miliknya sendiri. Setidaknya, di sini Esta bisa bernapas tanpa harus merasa dibandingkan atau dinilai.

Saat Esta sedang menuang kopi untuk pelanggan, suara bel pintu berbunyi. Seorang wanita muda masuk, membawa setumpuk buku di tangannya. Esta mengenalnya, wanita itu merupakan pelanggan tetap yang sering datang setiap minggu. Namanya Livia.

"Halo, Esta," sapanya dengan senyum kecil.

"Halo," Esta membalasnya singkat.

Livia selalu seperti itu. Tidak banyak bicara, tapi kehadirannya tidak pernah terasa mengganggu. Wanita itu biasanya duduk di meja dekat jendela, membaca buku sambil sesekali menyeruput kopinya.

Hari ini pun sama.

Esta kembali fokus pada pekerjaannya. Saat istirahat tiba, Esta duduk di sudut kafe, mengaduk kopi tanpa benar-benar berniat meminumnya.

"Lo kelihatan capek banget, Ta."

Esta mendongak. Galih sudah duduk di seberangnya, sembari membawa secangkir teh.

"Lo nggak sarapan?" tanya Galih.

Esta menggeleng.

Galih menghela napas. "Lo harus jaga kesehatan, Ta. Jangan sampai jatuh sakit cuma karena terlalu sibuk kerja dan—"

"Bukan karena kerja," potong Esta pelan.

Galih menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. Galih tidak bertanya lebih lanjut, dan untuk itu Esta bersyukur.

✍✍✍

Sore hari, ketika Esta sedang membereskan meja, ponselnya kembali bergetar. Esta melirik sekilas layar yang menyala, mengira itu hanya notifikasi biasa, tetapi nama yang muncul di sana membuatnya berhenti sejenak.


Jari-jarinya menggantung di atas layar. Tidak langsung membalas, hanya menatap pesan itu lama, seolah mencari makna tersembunyi di baliknya. Radit hampir tidak pernah menghubunginya lebih dulu, apalagi hanya untuk bertanya kapan Esta pulang.



Balasan dari Radit datang lebih cepat dari yang Esta duga.


Esta mengerutkan kening. Ada sesuatu yang terasa janggal, tapi Esta tidak ingin memikirkannya sekarang.

✍✍✍

Saat malam tiba dan pekerjaannya selesai, Esta berjalan menuju halte bus dengan langkah lambat. Kota sudah mulai tenang, lampu jalan menerangi trotoar yang basah oleh hujan yang turun beberapa jam lalu.

Di dalam bus, Esta kembali menatap jendela, membiarkan pikirannya berkelana.

Bagaimana kalau Esta tidak pulang malam ini?

Bagaimana kalau Esta pergi ke tempat lain, ke kota lain, ke kehidupan yang berbeda?

Tapi Esta tahu itu tidak mungkin.

Tidak sekarang.

Bus berhenti di halte dekat rumahnya, dan Esta turun dengan perasaan yang bercampur aduk. Langkahnya terasa lebih berat saat berjalan menuju rumah.

Di depan pintu, Esta menarik napas dalam sebelum akhirnya masuk.

Seperti yang sudah Esta duga, ruang tamu gelap, hanya diterangi lampu kecil di sudut. Dari dapur, terdengar suara piring yang sedang dicuci.

Ibu.

Esta melepas sepatunya dan berjalan menuju dapur. Ibu berdiri di depan wastafel, tangannya sibuk mencuci piring, wajahnya tampak lelah.

"Ibu belum tidur?" tanya Esta pelan.

Ibu menoleh, tersenyum kecil. "Ibu nunggu kamu pulang."

Hati Esta mencelos sedikit.

Tanpa berkata apa-apa, Esta mengambil lap dan mulai membantu ibunya mengeringkan piring. Mereka bekerja dalam diam, hanya suara air mengalir yang terdengar di antara mereka.

Setelah semua selesai, ibu menatap Esta dengan lembut. "Kamu baik-baik saja?"

Esta hanya mengangguk.

Ibu mengulurkan tangan, mengusap rambut Esta sebentar, lalu tersenyum.

"Kalau ada apa-apa, cerita sama Ibu, ya?"

Esta tidak menjawab, hanya menatap mata ibunya yang penuh perhatian.

Mungkin selama ini Esta terlalu sibuk merasa sendirian, sampai lupa bahwa ibu juga masih ada di sini.

Mereka berjalan menuju kamar masing-masing. Saat Esta menutup pintu kamarnya, Esta berdiri diam di tengah ruangan. Lalu, untuk pertama kalinya sejak lama, Esta merasa sedikit lebih ringan. Mungkin, Esta tidak benar-benar sendirian.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chapter Dua : Nama yang Tak Disebut

Chapter Tiga : Ketukan di Pintu Kenangan