Chapter Tiga : Ketukan di Pintu Kenangan

Alamat itu ada di sana. Jelas. Nyata.

Bukan sekadar bayangan di kepalanya. Bukan sekadar harapan samar yang selama ini tak pernah bisa Esta genggam.

Esta menatap layar ponsel, matanya terpaku pada deretan huruf yang membentuk sebuah nama. Nama yang seharusnya memiliki makna bagi dirinya, tetapi selama ini hanya terdengar seperti sesuatu yang jauh dan tak terjangkau. Ada sesuatu yang mencengkeram dadanya, sesuatu yang membuat napasnya terasa lebih berat dari biasanya.

Radit masih berdiri di ambang pintu, tidak langsung pergi. Menunggu, seperti memberi Esta ruang untuk mencerna semua. Wajahnya tetap datar, tetapi ada sorot yang sulit dijelaskan di matanya.

"Gue tahu lo pasti punya banyak pertimbangan," ucap Radit, suaranya terdengar lebih tenang dari biasanya. "Tapi kalau lo mau nemuin dia, gue bakal bantu."

Esta tidak langsung merespons. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Radit selalu menjadi orang yang terlihat santai, seolah dunia ini bukan sesuatu yang perlu dipikirkan terlalu dalam. Tapi kali ini, adiknya berdiri di sini, menawarkan sesuatu yang bisa mengubah banyak hal. Tidak dengan paksaan, tidak dengan sikap sok tahu hanya sebuah pernyataan sederhana yang memberi Esta pilihan.

"Gue cuma mikir," lanjut Radit setelah jeda yang cukup panjang. "Kalau ini yang lo cari, lo nggak seharusnya sendirian."

Kata-kata itu mengendap di dalam diri Esta.

Selama ini, Esta memang selalu sendiri dalam pencariannya. Tidak pernah ada yang benar-benar bertanya apakah Esta ingin menemukan jawaban. Tidak ada yang menawarkan tangan untuk menemaninya berjalan. Semua orang menganggap ini adalah urusannya sendiri seperti sebuah beban yang harus Esta pikul seorang diri.

Tetapi kini, ada seseorang yang mengatakan sebaliknya.

Esta menggigit bibir bawahnya.

Kakinya terasa seperti tertahan di lantai. Ada dorongan untuk segera pergi dan mencari sosok itu, tetapi ada sesuatu yang lebih kuat menahannya tetap di tempat. Esta tidak tahu apa yang akan ditemukan, dan Esta tidak yakin apakah dirinya siap untuk menghadapi kenyataan yang akan datang.

Tangannya semakin erat menggenggam ponsel, seolah itu satu-satunya hal yang bisa menenangkan pikirannya yang kini bergejolak.

"Gue butuh waktu buat mikir," akhirnya Esta berucap pelan, hampir seperti bisikan.

Radit tidak langsung menjawab. Hanya mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawaban itu jauh sebelum Esta mengatakannya.

"Gue nggak maksa," kata Radit akhirnya. "Tapi kalau lo butuh gue buat nemenin, bilang aja."

Kemudian, tanpa banyak kata lagi, Radit berbalik dan melangkah keluar kamar.

Pintu tidak sepenuhnya tertutup. Ada celah kecil yang masih terbuka, seperti sisa ruang yang dibiarkan jika Esta berubah pikiran. Tetapi Esta tetap diam di tempatnya, tidak bergerak.

Matanya kembali jatuh pada layar ponsel.

Nama itu masih ada di sana. Alamat itu tetap terpampang jelas.

Tak bergerak, tak berubah.

Hanya menunggu untuk ditemukan.

✍✍✍

Keesokan paginya, Esta bangun lebih awal dari biasanya. Malam tadi Esta tidak bisa tidur dengan tenang, pikirannya terus dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak memiliki jawaban pasti. 

Di meja makan, ibu sedang menyiapkan sarapan seperti biasa. Ayah tirinya membaca koran, Jati sibuk dengan ponselnya, dan Radit hanya melirik Esta sekilas sebelum kembali makan. 

Suasana seperti biasa. 

Tapi tidak untuk Esta. 

"Duduk, Ta," kata ibu dengan lembut. 

Esta menurut, tetapi pikirannya masih kalut. Esta ingin bertanya. Ingin tahu alasan ibu menyembunyikan semua ini darinya. Namun, pertanyaan itu terasa begitu sulit untuk diungkapkan. Dengan gelisah, Esta meremas sudut serbet di pangkuannya.

"Ibu." 

Suara Esta hampir tersangkut di tenggorokan, terasa berat, seperti ada sesuatu yang menahan setiap kata yang ingin dia ucapkan. Ibu menoleh, matanya penuh perhatian, menunggu. 

Hening beberapa detik. Waktu terasa terhenti, seolah hanya suara detak jantung mereka yang terdengar. Setiap napas yang dihirup terasa begitu berat, dan setiap pikiran seperti mengambang di udara, tak tahu harus dibawa ke mana.

"Kamu kenapa?" tanya ibu dengan nada penuh kekhawatiran, matanya tak lepas dari wajah Esta, seolah bisa merasakan ada sesuatu yang mengganggu anaknya, meskipun tak tahu apa. 

Esta menatap ibu dalam-dalam, mencari sesuatu di sana, di dalam mata ibu yang selalu tampak penuh kasih sayang itu. Ada yang ingin Esta ungkapkan, namun kata-kata itu terasa terperangkap di tenggorokan. Esta tidak ingin menuduh, tidak ingin menyalahkan. Namun, ada sebuah lubang besar dalam dirinya yang tak bisa Esta abaikan lagi. Esta butuh jawaban. 

"Ayah." 

Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Esta, namun cukup untuk menghentikan gerakan sendok di tangan ibu. 

Suasana di meja makan berubah dalam sekejap, dari yang awalnya tenang menjadi begitu tegang. Setiap detik terasa begitu berat, seolah setiap kata yang akan diucapkan berikutnya akan menentukan segalanya. 

Jati, yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, akhirnya mengangkat kepala dan memandang dengan ekspresi kosong, seperti menunggu momen ini datang. Radit tetap diam, tetapi wajahnya menunjukkan bahwa tahu ini akan terjadi. Bahwa saat ini pasti akan datang, saat di mana semua yang terpendam akan terungkap. 

Ayah tiri Esta menurunkan korannya dengan perlahan, menatap Esta dengan tatapan datar yang sulit diartikan. 

"Apa maksudmu?" suara ibu terdengar pelan, namun ada sesuatu dalam nada itu, sesuatu yang menyiratkan lebih dari sekadar pertanyaan biasa. 

Esta menelan ludah, merasa tenggorokannya kering. 

"Ayah kandungku." 

Ibu menggenggam jari-jari tangannya di atas meja, tangan yang dulu terasa begitu hangat kini tampak kaku, seolah menahan sesuatu yang lebih besar. "Untuk apa membahas itu sekarang?" 

"Aku ingin tahu," suara Esta lebih tegas kali ini, berusaha menahan kegelisahan yang mulai meluap. "Kenapa selama ini Ibu nggak pernah cerita? Kenapa namanya bahkan nggak boleh disebut?" 

Mata ibu tiba-tiba berkabut, seolah ada beban lama yang muncul di permukaan. Ibu menatap Esta dengan mata yang sulit dibaca. Ayah tiri Esta, yang tadi tampak tenang, kini menarik napas panjang, melipat korannya dengan hati-hati sebelum berkata, "Beberapa hal memang lebih baik dibiarkan seperti itu." 

Esta menatapnya tajam. "Lebih baik buat siapa?" 

Laki-laki itu tidak menjawab, hanya menundukkan kepalanya, seolah kata-kata itu tak pantas lagi diucapkan. 

Ibu memejamkan mata sejenak, mencoba meredakan perasaan yang mulai bercampur aduk, sebelum akhirnya membuka mata dan berkata, "Ini bukan sesuatu yang mudah dijelaskan, Ta." 

"Tapi aku berhak tahu," Esta bersikeras, suaranya penuh keteguhan yang tak bisa dibendung. 

Ibu menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca, dan dalam tatapan itu, Esta bisa melihat sesuatu. Ada luka yang dalam, ada ketakutan yang tersembunyi. 

"Ayahmu ...," suara ibu nyaris bergetar, seperti ada beban yang terlalu berat untuk diungkapkan. "Dia sudah tidak ada di hidup kita. Sudah lama." 

"Tapi dia masih ada," Esta menunjuk ke layar ponselnya, matanya menyala. "Ada namanya. Ada alamatnya. Aku bisa mencarinya kalau aku mau." 

Ibu terdiam, matanya terpejam sebentar, seolah mempertimbangkan sesuatu yang sangat sulit. 

Jati, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. "Gue nggak ngerti kenapa lo tiba-tiba pengin tahu sekarang. Lo baik-baik aja sebelumnya." 

"Beneran baik-baik aja?" Esta tertawa kecil, namun tawa itu penuh kepahitan. "Lo pikir gue nggak pernah ngerasa ada bagian yang hilang?" 

Jati hanya mengangkat bahu dengan santai, seolah tak peduli. "Kalau dia ninggalin lo dari dulu, buat apa dicari?" 

Kata-katanya seperti tamparan keras yang mengenai Esta lebih dalam daripada yang seharusnya. 

Radit meletakkan sendoknya dengan gerakan cepat, menatap Jati dengan tatapan tajam yang penuh amarah. "Nggak semua hal sesederhana itu." 

Jati mendengus, merendahkan bahunya. "Ya, tapi gue juga nggak mau ngelihat rumah ini makin ribet cuma gara-gara dia ngebuka luka lama." 

Esta ingin membalas, namun ibu lebih dulu bersuara, suaranya penuh kekuatan. 

"Cukup." 

Ibu menatap mereka satu per satu, lalu akhirnya kembali ke Esta. "Kalau kamu benar-benar ingin tahu, Ibu nggak bisa melarang." 

Hening sejenak. Semua mata tertuju pada ibu yang kini seolah sudah membuat keputusan besar. "Tapi jangan menyesal kalau jawaban yang kamu dapat nggak seperti yang kamu harapkan." 

Dada Esta terasa seperti terkunci, sesak, dan Esta tahu bahwa kata-kata ibu itu bukan hanya peringatan. Ada sesuatu yang lebih besar di baliknya, sesuatu yang mungkin akan mengubah segalanya. 

Tapi itu tidak menghentikan rasa penasarannya. Tidak ada yang bisa menghentikan keinginan untuk tahu, untuk menemukan jawaban yang selama ini terpendam. 

Esta hanya mengangguk, meskipun hatinya berdegup sangat cepat. 

Tanpa berkata apa-apa lagi, Esta berdiri dan meninggalkan meja makan. Langkahnya terasa berat, namun juga penuh tekad. 

Hatinya berdebar kencang, berdebar dengan pertanyaan yang tak terjawab. 

Esta tahu, sejak detik ini, semuanya akan berubah. Dan Esta siap menghadapi apa pun yang menantinya di balik nama itu.

✍✍✍

Rumah itu berdiri megah di ujung jalan, dengan pagar besi tinggi berwarna hitam yang masih terawat baik. Dindingnya kokoh, cat putihnya masih bersih meskipun ada beberapa bagian yang mulai pudar dimakan waktu. Jendela besar dengan kaca bening memperlihatkan tirai mahal yang menjuntai rapi, dan halaman depannya dihiasi tanaman hias yang tampak terawat. Tidak ada kesan kumuh atau terlantar di tempat ini—sebaliknya, rumah ini tampak seperti milik seseorang yang hidup dengan cukup nyaman.

Esta berdiri di seberang jalan, kedua tangannya mengepal di dalam saku jaket. Matanya menelusuri setiap sudut rumah itu, mencoba membayangkan seperti apa kehidupan di dalamnya. Rasa asing menyusup ke dalam dirinya. Tempat ini terlalu berbeda dari yang Esta bayangkan. Tidak ada tanda-tanda kesulitan atau kesederhanaan yang selama ini melekat dalam pikirannya tentang sosok yang ingin Esta temukan.

Radit ada di sampingnya, diam tapi siaga. Tidak banyak bicara sejak mereka berangkat, hanya sesekali meliriknya, seakan memastikan bahwa Esta tidak akan berubah pikiran di saat-saat terakhir.

"Kalau sesuai alamat ini benar rumahnya. Suara Radit terdengar tenang, tetapi ada sedikit keraguan di dalamnya.

Esta masih tidak menjawab. Napasnya terasa berat, seolah udara di sekelilingnya mendadak lebih pekat.

Di balik pagar besi itu, hidup seseorang yang selama ini hanya menjadi bayangan dalam kepalanya. Sosok yang namanya tidak pernah boleh disebut, yang keberadaannya seakan dihapus dari hidupnya. Namun kini, Esta berdiri di sini, hanya beberapa langkah dari kemungkinan menemukan jawaban.

"Kita nggak akan tahu kalau nggak nyoba," kata Radit lagi, lebih pelan.

Esta menarik napas panjang. Menatap pagar tinggi itu sebelum akhirnya melangkah maju. Tangannya terulur, menyentuh besi dingin yang terasa asing di kulitnya. Dengan sedikit ragu, Esta menekan bel di samping gerbang.

Bunyi nyaring memenuhi udara.

Tidak langsung ada jawaban.

Pria itu tidak langsung bereaksi. Ekspresinya kosong, tidak menunjukkan kejelasan apa pun. Matanya seperti sedang berusaha mengenali sesuatu—sesuatu yang seharusnya tidak ada di hadapannya, sesuatu yang tak masuk akal, namun nyata. Wajahnya tidak menunjukkan kebingungan, tapi ada kesunyian di dalamnya, seperti sedang mencari-cari sesuatu dalam dirinya sendiri. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menekan, udara yang kian tebal dengan ketegangan. Pria itu tetap diam, seolah mencoba merangkai kata-kata yang tepat, namun tak bisa menemukannya.

Radit melirik Esta, memberi isyarat halus bahwa ini adalah saatnya. Waktu yang terasa begitu lama akhirnya sampai pada titik ini. Esta menelan ludah dengan berat, berusaha menenangkan dirinya. Esta tahu harus berbicara, harus mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata itu terasa begitu asing, seperti ada beban yang membuatnya terbungkam. 

Dengan suara yang nyaris bergetar, Esta akhirnya membuka mulut, lidahnya terasa berat, seperti setiap kata yang keluar membawa beban yang lebih besar.

"Ayah ."

Mata pria itu sedikit melebar, napasnya tersendat, namun tetap diam. Hanya ada keheningan yang mengisi ruang antara mereka, seolah dunia berhenti sejenak untuk memberi mereka waktu. Esta bisa merasakan getaran dalam dirinya, hatinya berdegup lebih cepat. Esta menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, berusaha agar suaranya tetap tenang meskipun tubuhnya terasa kaku.

"Nama aku Esta." Dia berhenti sejenak, merasakan beban kata-kata itu menghantamnya. Lalu, dengan suara yang lebih mantap, Esta melanjutkan, "Aku anak Lasmi."

Hening. Nama itu menggantung di udara, begitu berat, seperti ada sesuatu yang jatuh begitu saja di antara mereka. Sesuatu yang tidak bisa lagi dihindari.

Pria itu tak langsung bergerak. Matanya tetap mengunci wajah Esta, namun ekspresinya berubah perlahan. Ada keheningan yang lebih dalam, seolah sedang berusaha mengenali sesuatu yang hilang atau tak seharusnya ada di hadapan. Di matanya, Esta bisa melihat keterkejutan yang samar, keraguan yang perlahan muncul, dan mungkin lebih dari itu. Sesuatu yang lebih dalam yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

"Lasmi?" Suara pria itu terdengar pelan, hampir seperti gumaman, mengulang sebuah nama yang seolah telah lama terkubur dalam ingatan.

Tidak ada yang berbicara. Beberapa detik berlalu dengan hening yang penuh makna. Dalam keheningan itu, ada sesuatu yang terungkap. Ssesuatu yang tidak bisa lagi disembunyikan. Ada pengakuan yang mulai muncul di antara mereka, meski tak satu pun kata yang terucap.

Esta tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Apa yang akan ditemui di balik tatapan pria itu, apa yang akan didengar selanjutnya. Tapi satu hal yang jelas, tidak ada jalan untuk kembali. Dan meskipun jalan di depan terasa kabur, Esta tahu bahwa momen ini sudah mengubah segalanya.

✍✍✍

 Angin bertiup lebih kencang, membuat daun-daun di halaman bergetar pelan. Esta masih berdiri di tempatnya, menatap pria itu tanpa berkedip. Ada begitu banyak hal yang ingin Esta katakan, tetapi kata-kata terasa mengendap di tenggorokan, tertahan oleh sesuatu yang berat. Kemarahan, kekecewaan, mungkin juga kesedihan yang belum sepenuhnya Esta pahami.

Wanita yang berdiri di ambang pintu masih menatap mereka dengan sorot mata yang penuh pertanyaan dan kecurigaan. Perlahan, wanita itu melangkah mendekat, menoleh ke arah pria itu seolah meminta penjelasan.

"Mas?" Nada suaranya menekan, menuntut kepastian.

Pria itu akhirnya mengembuskan napas panjang. Ada kelelahan yang tergambar jelas di wajah, seakan di saat itu juga, seluruh beban masa lalu kembali menghantam tubuhnya.

"Ya," suaranya lirih, hampir tak terdengar. "Dia anakku."

Wanita itu membeku, matanya melebar, tatapannya terpaku pada Esta seolah baru saja menemukan sesuatu yang seharusnya tetap tersembunyi. Ekspresinya berubah, keterkejutan yang mentah perlahan memudar, digantikan oleh ketidakpercayaan yang menusuk, ketidaknyamanan yang merayap, dan perasaan lain yang sulit diuraikan, tetapi jelas meninggalkan jejak dari sorot mata.

Esta menelan ludah, merasakan detak jantungnya semakin tidak karuan. Bahkan sejak awal, Esta sudah menduga pria ini memiliki kehidupan lain. Namun melihatnya langsung, berdiri di depan rumah yang begitu rapi dan nyaman, dengan seorang wanita yang jelas telah lama mendampingi, membuat sesuatu dalam diri Esta semakin sakit.

Wanita itu akhirnya bersuara lagi, kali ini suaranya lebih pelan, lebih dingin. "Kenapa dia ada di sini?"

Pertanyaan itu seperti belati yang menusuk udara di antara mereka.

Pria itu mengalihkan pandangannya ke Esta. Mata mereka bertemu, dan di sana, Esta bisa melihat sesuatu yang sulit dijelaskan. Sebuah campuran rasa bersalah, kelelahan, dan ketakutan.

"Aku cuma ingin tahu," kata Esta akhirnya, suaranya nyaris berbisik, menatap pria di depannya tanpa berkedip. "Aku cuma ingin tahu kenapa Ayah pergi."

Wanita itu menghela napas tajam lalu memalingkan wajah. Ada jeda sebelum berbicara. "Jadi ini alasan Mas nggak pernah cerita soal masa lalu," katanya dengan nada tajam.

Pria itu tetap diam. Tatapannya masih terarah pada Esta. Tidak ada reaksi, tetapi ada sesuatu yang berubah dalam sorot matanya.

Radit yang sejak tadi hanya mengamati akhirnya melangkah mendekat. "Kami datang bukan buat bikin masalah," katanya dengan nada tegas. "Esta cuma mau tahu kebenaran."

Wanita itu menatap Radit lalu beralih ke Esta. Wajahnya tetap datar tetapi suaranya lebih pelan saat berbicara. "Kebenaran macam apa yang kalian cari. Apa pun yang terjadi di masa lalu itu sudah berlalu."

Esta mengepalkan tangannya. "Tapi bukan buat aku."

Wanita itu mendesah lalu melipat tangan di dada. Ekspresinya penuh ketidaksabaran.

Pria itu masih diam tetapi sesuatu dalam tatapannya berubah. Pria itu menatap Esta seolah menyadari sesuatu.

"Masih mau ngobrol di depan pintu," katanya akhirnya.

Wanita itu menoleh cepat. Ekspresinya tidak setuju tetapi pria itu sudah melangkah mundur memberi isyarat agar Esta dan Radit masuk.

Hati Esta terasa sesak. Esta melangkah pelan, tidak tahu apa yang menantinya di dalam rumah itu. Esta terus berjalan melewati pintu tanpa menoleh.

✍✍✍

Wanita itu masih menatap pria di sebelahnya. Matanya sedikit melebar, napasnya tertahan, seolah kata-kata yang baru saja didengarnya tidak bisa langsung dipahami. Lalu perlahan, kembali menoleh ke Esta.

"Kamu benar anaknya?" Suara wanita itu terdengar pelan, nyaris bergetar, seperti sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Esta tidak langsung menjawab. Hanya berdiri di tempat, menatap balik tanpa ekspresi. Tidak tahu apakah harus mengangguk atau mengiyakan dengan kata-kata. Tetapi tatapan wanita itu tidak lepas darinya, matanya menyusuri setiap sudut wajah Esta, seolah mencari sesuatu yang familiar, sesuatu yang pernah dikenalnya di masa lalu.

Dan pada akhirnya, wanita itu tidak membutuhkan jawaban.

"Saya nggak tahu harus bilang apa."

Nada suaranya pelan, lebih ditujukan untuk dirinya sendiri daripada untuk siapa pun di ruangan itu. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya sebelum akhirnya terangkat menyentuh lengan pria di sampingnya.

"Kenapa kamu nggak pernah cerita, Mas?"

Pria itu tidak segera menjawab. Pandangannya tetap terarah ke Esta, tetapi di matanya, ada sesuatu yang sulit diartikan. Napasnya sedikit lebih berat dari sebelumnya, seolah ada beban yang dipikul dalam pikirannya.

"Nggak ada yang perlu diceritakan." Nada suaranya terdengar datar, tetapi kata-kata itu membawa sesuatu yang lebih dalam dari sekadar penyangkalan.

Keheningan menggantung di antara mereka.

Esta mengerjapkan mata. Hatinya terasa sesak. Semua yang selama ini Esta simpan dalam hati, segala harapan yang mungkin masih tersisa, seketika terasa kosong.

"Tidak ada yang perlu diceritakan?" Suaranya lebih rendah, tetapi amarahnya tidak bisa disembunyikan lagi.

"Ayah nggak pernah nyari aku, nggak pernah peduli. Lalu sekarang, setelah aku datang, Ayah bilang nggak ada yang perlu diceritakan?"

Pria itu masih diam, tetapi matanya menegang. Sejenak, pria itu menutup mata, menarik napas panjang, seolah berusaha menelan sesuatu yang sulit untuk dikatakan.

"Kamu nggak tahu apa-apa tentang masa lalu." Suaranya terdengar lebih dalam.

Esta mengepalkan tangannya. "Maka ceritain ke aku, Yah." Suaranya bergetar, tetapi nadanya tegas. "Biar aku tahu kenapa aku harus tumbuh tanpa Ayah."

Radit, yang sejak tadi diam, menepuk pundaknya pelan, seolah ingin menenangkan. Tetapi Esta tetap diam di tempat, menunggu.

Wanita itu menoleh ke pria di sampingnya, ekspresinya tidak bisa ditebak.

"Mas, dia anak kamu. Setidaknya, jelaskan sesuatu."

Sejenak, pria itu terlihat ragu. Lalu, dengan napas panjang, akhirnya membuka suara.

"Lasmi memilih untuk pergi dari saya. Saya tidak pernah bisa menjadi suami yang baik, apalagi seorang ayah. Saya pikir, lebih baik dia membesarkan kamu sendirian daripada dengan seseorang seperti saya."

Hening.

Ada sesuatu yang menekan dada Esta. Kata-kata itu terasa begitu mudah diucapkan, seolah semuanya sesederhana itu. Hanya karena merasa tidak cukup baik, maka ayahnya pergi, meninggalkan semuanya begitu saja.

"Saya yang seharusnya memutuskan itu." Suaranya lirih, tetapi tajam. Bukan dia yang berhak mengambil keputusan itu sendirian.

Keheningan yang sempat tercipta akhirnya dipecahkan oleh suara dari dalam rumah.

"Ayah mainanku hilang!"

Semua orang langsung menoleh.

Seorang anak laki-laki kecil berlari keluar dari dalam rumah, wajahnya dipenuhi kepanikan. Tubuhnya kecil, rambutnya sedikit acak-acakan, matanya bulat menatap penuh harapan pada wanita itu sebelum akhirnya beralih ke Esta dan Radit.

Esta membeku.

Anak ini memanggilnya ayah.

Pria itu berlutut, menepuk kepala anak itu dengan lembut. "Mainan yang mana?"

"Yang mobil merah, Ayah!"

Dada Esta terasa sesak.

Ayah.

Kata itu menusuk lebih dalam dari yang Esta kira. Sesuatu dalam dirinya terasa remuk. Anak ini mendapatkan sesuatu yang tidak pernah Esta miliki.

Radit meliriknya, tetapi Esta tetap diam. Hanya menatap pemandangan di depannya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Mungkin Esta datang ke sini dengan sebuah harapan. Tetapi sekarang, Esta tidak yakin apakah ada sesuatu yang tersisa untuknya di tempat ini.

Pria itu berdiri kembali. Matanya bertemu dengan Esta. Ada sesuatu di sana—sesuatu yang mirip dengan penyesalan, tetapi bukan permohonan maaf.

"Saya tidak bisa mengubah masa lalu, Esta."

Suaranya lebih pelan dari sebelumnya.

"Tapi saya harap, kamu bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri, tanpa harus bergantung pada apa yang seharusnya atau yang telah hilang."

Esta merasakan sesuatu yang berat menekan dadanya.

Radit menggenggam pergelangan tangannya pelan.

"Kita pergi sekarang?"

Esta tidak langsung menjawab, masih menatap pria itu, mencari sesuatu di dalam matanya. Tetapi apa pun yang Esta cari, sepertinya sudah lama hilang.

Akhirnya, Esta mengangguk.

"Ayo."

Mereka berdua berbalik, meninggalkan rumah itu.

Tetapi sebelum mereka benar-benar pergi, suara pria itu kembali terdengar.

"Esta."

Esta berhenti, tetapi tidak menoleh.

"Ayah minta maaf."

Kata-kata itu akhirnya terlontar. Tetapi entah kenapa, rasanya sudah terlambat. Esta menarik napas dalam, lalu melangkah pergi. Di belakangnya, suara tawa anak kecil bercampur dengan angin sore yang terasa semakin dingin.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chapter Satu : Di Antara Mereka

Chapter Dua : Nama yang Tak Disebut