Chapter Dua : Nama yang Tak Disebut
Pagi di rumah itu tetap sama. Sunyi dalam ketegangan yang tak kasatmata. Suara detik jam di dinding mengisi kekosongan yang seolah tak berujung, dan setiap hembusan napas terasa begitu berat, seperti ada sesuatu yang mengganjal di udara. Tidak ada yang lebih menonjol selain rasa canggung yang selalu hadir setiap kali mereka semua duduk bersama di meja makan, sebuah kebersamaan yang seolah kehilangan makna sejak beberapa hal terjadi di dalam rumah ini.
Esta turun ke meja makan sedikit lebih awal dari biasanya, karena Esta tahu, semakin lama menunda, semakin tebal ketegangan yang akan menyelimuti mereka. Di dapur, ibu sudah sibuk menyiapkan sarapan, seperti rutinitas harian mereka yang tak pernah berubah. Radit dan Jati belum terlihat. Seperti biasa, mereka tidak terburu-buru. Yang ada hanya ayah tirinya, lelaki yang kini menjadi bagian dari hidup mereka, duduk di meja. Suasana hening yang mengisi ruangan menciptakan rasa hampa yang semakin menambah suasana hati Esta.
Esta memandangi piring kosong di depannya, seakan mencoba menunggu sesuatu yang sekiranya bisa memecah kebekuan ini. Tapi tidak ada yang datang. Ibu masih sibuk dengan secangkir teh, menambahkannya dengan hati-hati seolah tidak ingin ada yang tumpah. Jati dan Radit masih belum muncul, dan ayah tirinya tak menunjukkan tanda-tanda untuk berbicara. Ini adalah gambaran nyata dari kehidupan mereka sekarang. Sepi, terasing, seolah mereka semua berada di dunia yang terpisah satu sama lain.
Namun, pagi itu, Esta memutuskan untuk menguji batas. Suasana yang sunyi ini sudah terlalu lama bertahan, dan ada sesuatu yang ingin Esta katakan. Sesuatu yang telah lama mengendap di pikirannya dan mulai meresap ke dalam hatinya.
"Ibu," panggilnya pelan.
Ibu menoleh, masih sibuk dengan teh yang sedang dituang ke cangkir. "Ya?"
Esta menggenggam sendok di tangannya, berpikir bagaimana harus mengatakannya.
"Aku mimpi soal Ayah."
Gelas yang dipegang ibu sedikit goyah, dan sejenak, ekspresinya berubah. "Ayah siapa?" tanya ibu dengan nada suara yang datar, penuh kehati-hatian, seolah menyembunyikan sesuatu.
"Ayah kandung."
Keheningan jatuh.
Ayah tiri Esta tetap diam, pura-pura tidak mendengar.
"Esta ...," ibu menghela napas, berbalik menatapnya. Ada sesuatu di matanya yang sulit Esta artikan, kesedihan, ketakutan, atau mungkin keduanya. "Kita sudah pernah bicara soal ini, 'kan?"
"Tapi Ibu nggak pernah benar-benar memberi tahu aku apa pun."
Ibu terdiam.
"Apa yang terjadi dengannya?" Esta bertanya lagi, kali ini lebih hati-hati, seolah takut jika kata-katanya terlalu tajam, bisa melukai lebih dalam. Sebuah keraguan yang tak terucapkan menggantung di antara mereka. Sesuatu dalam hatinya berteriak untuk mencari tahu lebih banyak, namun Esta tak ingin memaksakan ibu menjawab dengan cara yang bisa membuatnya semakin tertutup.
Ibu tetap diam, sesaat menatap teh yang masih hangat di cangkirnya. "Ayahmu sudah lama pergi," jawabnya dengan suara datar, seperti kalimat itu sudah diulang berulang kali, sampai Esta merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan tentang itu.
"Tapi, bukannya pergi. Ibu yang nggak pernah bicara soal dia," kata Esta, suaranya lebih pelan, hampir seperti bisikan. Ada kemarahan yang terpendam dalam kalimat itu, tapi Esta tidak ingin memperburuk keadaan. Ini adalah pertanyaan yang terus menghantui pikirannya, dan kali ini, Esta merasa harus melontarkannya. Esta tidak bisa terus hidup dengan hanya mendapatkan jawaban kosong seperti itu.
Ibu menatapnya, matanya melembut. Sebuah tatapan yang penuh rasa sayang, namun masih dibatasi oleh tembok yang tinggi. Seakan-akan ibu ingin sekali menjawab, namun ada sesuatu yang menghalangi. Sesuatu yang tidak bisa dipaksa untuk keluar begitu saja. Tapi, jawaban itu tetap tidak ada. Keheningan kembali menghampiri mereka, semakin terasa berat.
Lalu suara kursi yang bergeser memecah keheningan itu. Esta menoleh, melihat ayah tirinya yang bangkit dari kursi dengan gerakan tenang, seolah tak ada yang luar biasa terjadi. "Ayah berangkat kerja," katanya, suaranya tanpa emosi, tanpa menoleh ke arah Esta, ayah berjalan keluar.
Keheningan itu kembali menyelimuti ruangan. Suara detak jam dinding yang monoton dan berulang, seakan-akan mengingatkan betapa lambatnya waktu berlalu ketika tidak ada lagi yang bisa dikatakan. Wajah ibu tetap tenang, namun Esta bisa merasakan adanya beban yang menggerogoti hati ibu. Seperti ada banyak hal yang disembunyikan, terlalu sulit untuk dibicarakan, dan akhirnya hanya dibiarkan terpendam.
Setelah beberapa saat, dengan nada yang lebih pelan dan hati-hati, ibu akhirnya membuka suara. "Ini bukan sesuatu yang perlu kamu pikirkan, Nak," katanya, suara lembut namun penuh penekanan. Itu adalah kalimat yang biasa keluar setiap kali ada topik yang dianggap tidak perlu dibicarakan. Tapi, untuk pertama kalinya, Esta merasa kalimat itu kosong. Seolah ibu berbicara untuk menghindari kenyataan yang ada.
"Tapi dia ayahku," Esta akhirnya berkata, suara yang terkatup di tenggorokan mulai terlepas begitu saja. Kata-kata itu keluar dengan sedikit keras, penuh perasaan terluka dan bingung. Esta ingin ibu mengerti bahwa ini bukan soal siapa yang lebih penting, tapi tentang rasa kehilangan yang tak pernah diberi penjelasan. "Aku harus tahu kenapa semuanya jadi seperti ini."
Ibu menarik napas dalam-dalam, menunduk, seperti mencoba menahan diri agar tidak menangis. "Dan aku ibumu," potongnya, kali ini lebih cepat, seperti ingin menegaskan posisinya. "Kamu hanya perlu percaya kalau yang Ibu lakukan adalah yang terbaik," lanjutnya, namun ada keraguan dalam suaranya. Keraguan yang terasa lebih kuat daripada kata-kata itu sendiri.
Setelah kalimat itu, ruangan kembali sunyi. Esta merasa perasaan yang sangat berat menyelimuti dirinya. Ibu berkata demikian, tapi hatinya tahu bahwa tidak ada yang terbaik jika semuanya hanya dihindari. Tidak ada penjelasan, tidak ada penutupan. Hanya ruang kosong yang semakin membesar.
Lalu suara langkah kaki di tangga memecah ketegangan itu. "Drama apa lagi pagi-pagi begini?" terdengar suara Jati yang khas, suara malas yang sudah sangat familiar. "Ada masalah baru?" tanya Jati, melangkah turun dengan ekspresi setengah tertawa dan setengah sinis. Jati sering kali seperti itu, seolah merasa bahwa semua yang terjadi di rumah ini hanyalah sebuah sandiwara yang tak ada habisnya.
Esta hanya menunduk, tidak menjawab. Tidak ada yang perlu dijawab. Ia merasa sudah cukup berbicara, namun kenyataan masih tetap menempel seperti beban yang tak bisa ditinggalkan.
Ibu berusaha mengalihkan suasana, mencoba untuk membawa percakapan kembali ke jalur yang lebih ringan. "Kamu sudah selesai?" tanya ibu, meskipun suara itu terkesan sedikit tegang. Ibu terlihat mencoba sekuat tenaga untuk tidak terlalu lama terperangkap dalam percakapan yang membuatnya merasa tak nyaman.
Esta mengangguk, mendorong kursinya mundur dan berdiri. Gerakan itu tampak seperti ritual harian, seperti kebiasaan yang harus dilakukan, meski hatinya tidak pernah benar-benar siap. Esta menatap ibu sebentar, namun tak ada kata yang keluar. Hanya ada rasa bingung yang semakin menumpuk.
Saat berjalan keluar rumah, Esta tahu satu hal, ini bukan jawaban. Ini hanya cara ibu menghindari kenyataan. Esta merasa seperti berjalan menuju ke pintu yang tak terbuka, menuju jalan yang tak jelas tujuannya. Setiap langkahnya terasa berat, seperti ada sesuatu yang menahannya, tapi Esta tidak tahu apa.
Namun kali ini, Esta tidak akan berhenti mencari tahu. Tidak ada kata menyerah dalam kamusnya sekarang. Rasa ingin tahu ini lebih besar dari rasa takut yang selalu menghantuinya. Esta tahu bahwa apapun yang terjadi, Esta harus menemukan jawaban, meskipun itu akan menghancurkan dunia yang selama ini Esta kenal.
✍✍✍
Di balik sibuknya pekerjaan, Esta berusaha menenangkan pikirannya. Suara klakson dari jalanan yang riuh, aroma kopi yang menyebar di kafe, serta langkah kaki para pengunjung yang berlalu-lalang, semua itu sempat menyibukkan matanya. Namun, meski semua itu hadir, satu pertanyaan tetap menghantui pikirannya.
Ibu tak akan pernah memberinya jawaban, itu jelas. Setiap kali Esta mencoba bertanya, ibu selalu mengalihkan pembicaraan atau menjauhkan dirinya dari topik itu. Ada sesuatu yang tersembunyi, dan meskipun Esta merasa tahu bahwa pertanyaan itu hanya akan membuka luka lama, rasa ingin tahu itu tetap mengganjal.
Namun, ada satu orang yang mungkin bisa memberikan jawaban. Radit. Mungkin Radit tak banyak bicara, tapi Esta tahu Radit bukan orang yang mudah diabaikan. Sesekali, Esta menangkap tatapan adiknya yang memancarkan pemahaman lebih dalam, bahkan lebih dalam dari yang bisa diungkapkan dengan kata-kata. Radit memperhatikan, meskipun seakan tidak peduli. Dan malam itu, Esta memutuskan untuk mencobanya.
✍✍✍
Ketika Esta pulang, rumah terasa lebih sepi dari biasanya. Tak ada suara ibu yang sedang sibuk di dapur atau Jati yang berlarian dengan kekehannya. Ibu pasti sedang di kamar, mungkin beristirahat atau tenggelam dalam pikirannya sendiri. Jati, seperti biasa, entah ke mana, mungkin sedang berkumpul dengan teman-temannya atau menghabiskan waktu di luar rumah.
Tapi Radit ada di sana, duduk di sofa seperti biasanya, dengan ponselnya yang terus dipandangi, seolah dunia di sekitarnya tak ada artinya. Ponsel itu sudah menjadi bagian dari dirinya, lebih seperti perpanjangan tangan daripada benda mati.
Esta berdiri di ambang pintu ruang tamu, memandangi sosok adiknya. Ada rasa ragu yang menggelayuti dirinya, sebuah keraguan yang entah berasal dari mana, tapi cukup kuat untuk membuatnya merasa terjepit. Suasana rumah yang sunyi, ketegangan yang sudah terbiasa ada, membuat langkahnya seolah tertahan. Ia menunggu, seakan mencari keberanian yang entah di mana.
"Lo kenapa?" suara Radit terdengar tanpa emosi, tidak menoleh sedikit pun dari ponsel. Seakan pertanyaan itu hanyalah kebiasaan, tanpa harapan jawaban lebih dari yang seharusnya.
Esta menggigit bibirnya, berusaha meredam segala pikiran yang terus datang. "Lo tahu sesuatu tentang ayah gue?" tanyanya pelan, berusaha untuk tidak menunjukkan betapa berat pertanyaan itu untuk keluar.
Radit akhirnya menatapnya, tetapi tatapan itu dingin dan kosong. "Tiba-tiba nanya begitu?" Radit mengernyitkan dahi, masih terkesan malas, tetapi ada sesuatu yang berbeda di matanya, seolah Radit menyadari ada lebih dari sekadar rasa ingin tahu biasa di balik pertanyaan itu.
"Gue cuma mau tahu," jawab Esta, suaranya terdengar lebih lemah dari yang Esta harapkan. Esta tahu Radit tidak akan mudah memberi jawaban, apalagi soal ayah. Tapi Radit tidak bisa berhenti. Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, seperti pusaran yang tidak berhenti mengaduk perasaan dan membangkitkan luka-luka lama.
Radit terdiam. Beberapa detik berlalu, dan akhirnya kembali memandang layar ponsel, mengabaikan Esta seolah pertanyaan itu hanya hal sepele. Tapi tidak lama setelah itu, suara Radit kembali terdengar, lebih pelan, seolah berat untuk diucapkan.
"Gue nggak tahu banyak," kata Radit setelah beberapa saat, nada suaranya seperti orang yang ingin menghindar dari sesuatu yang menyakitkan. "Tapi dulu waktu gue kecil, gue pernah dengar Ibu nangis sambil nyebut-nyebut nama seseorang. Gue nggak ingat persisnya, tapi gue yakin itu tentang bokap lo."
Jantung Esta berdegup lebih cepat. Itu lebih dari yang diharapkan. Selama ini, Esta hanya mendengar cerita kabur dari ibu, cerita yang dipenuhi penghindaran dan kebisuan. Tapi sekarang, dari mulut Radit, ada petunjuk yang belum pernah Esta dengar sebelumnya. Esta bisa merasakan ketegangan yang merayap di seluruh tubuhnya, meresap ke dalam darahnya.
"Nama siapa?" Esta menahan napas, suara hampir hilang karena harapan yang begitu besar. Esta menunggu, berharap jawaban itu bisa menjelaskan lebih banyak tentang pria yang selama ini hanya ada dalam bayangannya.
Radit menggeleng, wajahnya mengernyit. "Gue lupa."
Wajah Esta menegang. Ini bukan yang Esta harapkan. Esta sudah terlalu lama mencari jawaban dan perasaan kecewa itu datang begitu mendalam, lebih dalam dari yang Esta kira. "Tolong ingat-ingat, Dit. Ini penting buat gue," desaknya, suaranya hampir memelas, namun masih ada harapan yang tersisa.
Radit menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas panjang. Ada sesuatu yang Radit simpan dalam diri, sesuatu yang terasa berat untuk dibuka. Dengan suara lebih pelan, Radit melanjutkan, "Ada satu hal yang gue ingat," kata Radit, hampir seperti sebuah rahasia yang ingin disembunyikan. "Waktu itu, gue dengar Ibu bilang sesuatu kayak, ‘Aku nggak mau dia kembali lagi.’"
Kata-kata itu seperti menembus udara yang tenang di ruang tamu, menggantung dengan berat. Esta terdiam, pikirannya mulai kacau. Kalimat itu seperti sebuah kunci yang membuka pintu ke dalam masa lalu yang terlupakan, atau mungkin lebih tepatnya, yang sengaja disembunyikan.
"Jadi kalau lo cari dia, mungkin Ibu nggak akan suka," tambah Radit, matanya kini menatap Esta dengan serius. Ada ketegangan yang menggantung, seolah Radit ingin berkata lebih banyak, tapi ragu untuk membuka luka lama.
Esta menggigit bibirnya, mencoba menahan emosinya. "Gue cuma mau tahu siapa dia," katanya, suaranya bergetar, namun tetap penuh tekad.
Radit mengangkat bahu, tatapannya tidak berubah. "Lo yakin siap denger jawabannya?" tanya Radit, seolah tidak ingin memaksa Esta untuk melanjutkan pencariannya, tapi juga tidak ingin menyembunyikan apa yang Radit tahu.
Esta terdiam lama. Sebenarnya, Esta tidak yakin. Tidak ada yang bisa mempersiapkan dirinya untuk jawaban yang mungkin akan Esta temui. Tapi satu hal yang Esta tahu dengan pasti, Esta harus menemukannya. Esta harus menggali lebih dalam, meski itu akan membawa lebih banyak rasa sakit.
"Ya," jawabnya akhirnya, suara lebih tegas dari yang Esta kira, meski hatinya berdebar tak karuan. "Gue harus tahu."
Dan untuk pertama kalinya, Esta merasa bahwa pencarian ini bukan hanya tentang mengetahui siapa ayahnya, tetapi juga tentang menemukan siapa dirinya. Esta tidak yakin. Tapi Esta tahu satu hal, Esta harus menemukannya. Dan kali ini, Esta tidak akan berhenti.
✍✍✍
Malam itu, Esta terbaring dalam gelap, matanya terbuka lebar, namun tidak ada satu pun yang bisa membuatnya terlelap. Suara detakan jam di ruang tamu terdengar begitu jelas, menghentak-hentak, seolah menghitung detik yang terus berjalan, memaksa pikirannya untuk tetap terjaga.
Percakapan dengan Radit kembali terputar di kepalanya, berulang kali, seperti rekaman yang tak bisa berhenti. Aku nggak mau dia kembali lagi. Kata-kata itu seperti palu yang terus-menerus menghantam pikirannya. Itu bukan kalimat yang dikatakan seseorang jika ayahnya pergi dengan baik-baik.
Tangan Esta meremas selimut, jari-jarinya menggenggam kain itu seakan berharap bisa memeras semua kebingungannya. Setiap kata yang keluar dari mulut Radit terasa seperti serpihan puzzle yang semakin sulit untuk disatukan. Sebuah misteri yang semakin dalam, yang terasa semakin jauh dari jangkauan.
Siapa sebenarnya ayahnya. Rasanya begitu banyak hal yang Esta tidak tahu. Esta sudah lama terbiasa dengan ketidaktahuan itu, dengan keluarga yang lebih sering terasa asing daripada akrab. Tapi malam ini, semua itu terasa berbeda. Ada sesuatu yang menggerogoti hati Esta. Sesuatu yang tak bisa Esta abaikan begitu saja.
Apa yang terjadi hingga ibunya tidak ingin membicarakannya. Pikirannya terus berputar. Ibu yang selalu menjaga jarak saat membicarakan soal ayah. Terkadang, terlihat jelas sekali bahwa topik itu adalah sebuah ladang terlarang, yang sebaiknya tidak pernah disentuh. Ibu yang sepertinya menghindari pertanyaan apa pun tentang lelaki itu.
Dan kemudian, pertanyaan yang membuat dadanya semakin sesak, apa yang akan terjadi jika Esta tetap mencari tahu Apakah akan ada sesuatu yang lebih buruk. Sesuatu yang bisa merusak keseimbangan yang sudah rapuh ini. Tapi di sisi lain, Esta tahu, tidak bisa berhenti. Tidak ada jalan untuk kembali setelah dia mendengar kalimat-kalimat itu dari Radit. Rasa penasaran ini sudah terlalu besar untuk diabaikan.
Tiba-tiba, tangan Esta terulur ke meja di samping tempat tidurnya, meraih ponsel yang tergeletak di sana. Jari-jarinya gemetar sedikit saat membuka layar, dan matanya langsung tertuju pada pesan dari Radit yang masih ada di sana.
Pesan itu seolah menatapnya kembali, menantang, membiarkan kecemasan dan ketidakpastian menyelimuti hatinya. Esta menghela napas panjang. Tidak ada jawaban yang bisa menghilangkan kegelisahannya. Tidak ada cara untuk mempersiapkan diri dengan cukup baik. Tapi satu hal yang pasti, rasa penasaran ini tidak akan hilang.
✍✍✍
Keesokan harinya, ketika matahari baru saja menyinari rumah itu dengan sinar lembutnya, Esta merasa ada keputusan penting yang harus diambil. Pikirannya sudah mantap, tidak ada keraguan lagi. Esta harus mencari tahu.
Hari-hari yang penuh ketidakpastian telah cukup membuatnya tertekan. Apa yang Esta rasakan setiap kali berpikir tentang ayahnya. Sebuah kekosongan yang selalu ada, yang tidak pernah terisi oleh apapun, bahkan oleh kenangan yang seharusnya ada. Semua itu menjadi terlalu berat untuk dipendam. Dan sekarang, Esta tahu, hanya satu orang yang bisa memberikan jawaban untuk semua pertanyaannya. Ibu.
Setelah sarapan yang berlangsung dalam keheningan yang terasa semakin padat setiap harinya, Esta menunggu sampai Jati dan Radit keluar rumah. Ayah tirinya sudah berangkat kerja lebih pagi, jadi hanya ada ibu di rumah. Ada ketegangan yang membungkus ruang itu, seolah-olah Esta bisa merasakannya di udara yang dia hirup, seolah ruang itu terisi oleh kekosongan yang semakin menyesakkan.
Setelah beberapa saat, Esta memutuskan ini adalah waktu yang tepat. Dengan langkah pelan namun mantap, Esta berjalan menuju dapur, tempat ibu sedang menyelesaikan pekerjaan rumah seperti biasa. Ibu tampak tenang, mencuci piring tanpa ekspresi, seakan setiap gerakan tangannya sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Namun di balik ketenangan itu, Esta tahu ada sesuatu yang tersembunyi. Sesuatu yang tidak pernah bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Ibu," panggil Esta, suaranya terasa lebih berat dari biasanya.
Ibunya menoleh, ekspresinya masih sama, namun kali ini ada sedikit kekagetan di matanya, seakan tidak siap untuk percakapan yang akan terjadi. "Ya?"
Esta menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya sendiri sebelum memulai. "Aku mau tanya sesuatu."
Ibu tidak langsung menjawab, hanya melanjutkan tugasnya mencuci piring dengan gerakan yang sedikit lebih lambat, seolah mengulur waktu untuk mengumpulkan pikirannya. "Tentang apa?" tanya ibu, suaranya terdengar datar.
"Ayah."
Seketika, tangan ibu berhenti, dan hanya ada suara air yang masih mengalir dari kran. Wajah ibu berubah sedikit, dan Esta bisa melihat kelelahan di sana. Kelelahan yang bukan hanya fisik, tapi juga emosional, seakan sudah lama menanggung sesuatu yang tidak bisa diungkapkan. Tangan ibu melanjutkan gerakannya, namun kali ini lebih pelan, lebih terkontrol. "Kenapa tiba-tiba tanya ini?"
"Aku cuma mau tahu," jawab Esta, suaranya lebih lembut namun penuh tekad.
Ibu meletakkan piring terakhir di rak, lalu berbalik menatapnya dengan wajah yang lebih tegas. Ada kelelahan, tapi juga sesuatu yang lebih dalam, pertahanan. "Kenapa kamu ingin tahu sekarang?" tanya ibu, seolah berusaha menahan percakapan ini.
"Karena aku sudah cukup besar untuk tahu," jawab Esta, dengan suara yang semakin mantap.
Ibunya mengeringkan tangannya dengan handuk, menghela napas panjang. Wajahnya tampak seperti orang yang sudah tidak memiliki banyak energi untuk berbicara lebih banyak. "Esta, Ibu sudah pernah bilang, ini bukan sesuatu yang perlu kamu pikirkan."
"Tapi aku pikirkan, Bu," jawab Esta, suaranya lebih dalam, lebih penuh dengan perasaan yang sulit diungkapkan.
Keheningan kembali hadir. Masing-masing dari mereka terdiam, seolah saling mengukur apakah ada kata-kata yang tepat untuk keluar. Akhirnya, Esta mengambil langkah maju. "Apa dia masih hidup?"
Ibu menatapnya dalam diam, lama, seolah mencoba menilai apakah Esta siap mendengar jawaban itu. "Iya," jawabnya pelan.
Jantung Esta berdegup lebih cepat, ada kepastian yang datang begitu mendalam, namun juga begitu menakutkan. "Di mana dia?" tanyanya lagi, berusaha menahan gelombang perasaan yang mulai naik.
Ibu menggeleng, wajahnya menunjukkan keputus asaan yang dalam. "Ibu tidak tahu."
"Atau Ibu nggak mau tahu?" Esta tak bisa menahan kata-kata itu keluar. Ada rasa sakit yang tak bisa disembunyikan lagi.
"Esta," suara ibu kini terdengar tegas, lebih rendah, nyaris seperti peringatan yang tidak bisa diabaikan. "Jangan lanjutkan ini."
Namun, Esta tidak mundur. Esta tidak bisa. "Apa dia meninggalkan kita?" tanyanya dengan penuh tekad, meski hati kecilnya sudah mulai merasakan bahwa Esta mungkin tidak siap mendengar jawabannya.
Ibu diam, tidak menjawab, hanya menatapnya dengan ekspresi yang begitu sulit dipahami. Esta tahu bahwa jawaban itu sudah semakin dekat, semakin nyata, namun ibu tidak bisa atau tidak mau mengatakannya.
"Atau Ibu yang meninggalkan dia?" Pertanyaan itu keluar begitu saja, seperti ledakan yang tak terhindarkan, yang sudah lama terkunci di dalam dirinya.
Wajah ibu berubah. Ada luka yang mendalam di sana, sesuatu yang Esta belum pernah lihat sebelumnya. Sesuatu yang terpendam begitu lama. Wajah ibu tampak berkerut, seolah menahan sesuatu yang sangat berat. "Lupakan dia, Esta," kata ibu akhirnya, suaranya lebih pelan, lebih rapuh. "Dia bukan bagian dari hidup kita lagi."
"Tapi dia bagian dari aku," kata Esta, suaranya hampir seperti bisikan. Ada kekuatan dan kepedihan di setiap kata yang diucapkan.
Ibu terdiam. Wajahnya berubah menjadi dingin, tertutup rapat. "Dia bukan siapa-siapa," jawabnya dengan nada yang lebih tegas, lebih mengunci, seolah memotong semua percakapan ini. Tidak ada ruang lagi untuk bertanya, tidak ada ruang lagi untuk berharap.
Tapi bagi Esta, itu cukup. Cukup untuk memberinya sebuah petunjuk besar, sebuah pencerahan yang selama ini Esta cari. Ayahnya bukan pergi. Ayahnya dihapus. Dan Esta ingin tahu mengapa.
✍✍✍
Hari itu, Esta merasa seperti ada kabut di kepalanya, menghalangi setiap pikirannya. Setiap kali mencoba berkonsentrasi, bayang-bayang percakapan pagi tadi kembali menghantui. Dia bukan siapa-siapa. Kalimat itu terus terngiang-ngiang, seolah menggema tanpa henti di dalam benaknya.
Jika memang ayahnya tidak berarti apa-apa, mengapa ibu begitu keras menutupinya. Kenapa ada tembok yang begitu tebal antara mereka, tembok yang tidak terlihat namun begitu nyata, membatasi setiap percakapan, setiap upaya untuk mendekat.
Sore itu, ketika jam istirahat tiba, Esta duduk di sudut kafe, merasa gelisah, tak tahu harus berbuat apa. Waktu seolah bergerak begitu lambat, berputar di sekelilingnya tanpa memberi kesempatan untuk menarik napas lega. Keinginan untuk mengetahui semakin menguat, semakin tak bisa dibendung.
Dia membuka aplikasi pesan dan mengetikkan kalimat yang sejak tadi membebaninya.
Pesannya terkirim, dan setelah beberapa detik yang terasa seperti jam, notifikasi dari Radit muncul.
Esta menatap layar ponselnya, berpikir sejenak. Setiap kata yang ditulis terasa seperti beban berat yang terangkat, namun sekaligus semakin membebani hatinya. Dia kembali mengetik dengan hati-hati.
Pesan itu terkirim, dan detik demi detik berlalu tanpa balasan. Ada kekosongan yang membuatnya semakin tertekan, seolah waktu mengulur-ulur. Radit biasanya cepat membalas, tapi kali ini, entah kenapa, semuanya terasa berbeda.
Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Waktu yang terasa terlalu lama. Esta menggenggam ponselnya lebih erat, menahan napas, berharap.
Akhirnya, notifikasi muncul kembali.
Esta menatap pesan itu dengan penuh keyakinan. Rasa takut atau keraguan tak lagi bisa menghalangi tekadnya. Keputusan sudah bulat.
Pesannya terkirim dengan cepat, dan tak lama kemudian, Radit membalas lagi.
Ada perasaan campur aduk yang merayap dalam dada Esta. Meskipun langkah ini terasa berat, ada pula rasa lega yang mengalir begitu saja. Mungkin ini bukan keputusan terbaik, tapi ini adalah langkah yang harus dia ambil. Ibu tidak mau bicara, dan jika dia tidak mencari jawaban sendiri, siapa lagi yang akan memberinya penjelasan.
Esta menggenggam ponselnya dengan lebih erat lagi, merasakan detak jantungnya semakin cepat. Begitu banyak yang ingin dia tahu, begitu banyak yang terasa tak terungkapkan. Tapi satu hal yang pasti, sejak Esta memutuskan untuk menanyakan tentang ayahnya, Esta tidak akan berhenti. Bahkan jika jawaban itu membawa lebih banyak pertanyaan, Esta tahu bahwa hanya dengan menemukan kebenaranlah Esta bisa melangkah lebih jauh, mencari kedamaian yang selama ini Esta cari.
✍✍✍
Malamnya, pintu kamar Esta terbuka tanpa peringatan. Radit masuk begitu saja, ekspresinya serius, nyaris tegang. Tangannya merogoh saku, lalu meletakkan ponselnya di atas meja dengan gerakan mantap.
"Lo harus lihat ini," katanya, suaranya lebih dalam dari biasanya.
Esta menatap layar itu. Satu nama terpampang jelas di sana.
Sebuah nama yang tak pernah disebutkan sebelumnya.
Sebuah nama yang terasa asing, tapi entah kenapa, seperti memanggilnya dari balik kabut masa lalu.
"Apa ini?" suara Esta nyaris berbisik.
Radit menarik napas, menatapnya lurus. "Nama bokap lo." Hening sejenak, sebelum Radit melanjutkan, "Dan ini alamat terakhir yang gue temuin dari data lama."
Dada Esta bergetar, seakan detak jantungnya menyesuaikan ritme ketegangan yang mengikat ruangan.
Satu langkah lebih dekat ke jawaban. Dan mungkin, satu langkah lebih dekat ke sesuatu yang seharusnya tetap tersembunyi.




Komentar
Posting Komentar